Kenangan Hari Kartini Era Orde Baru

Itu adalah 21 April, aku lupa tahun berapa pokoknya masih jaman dulu. Jaman Orde Baru.
Dan aku, oh waktu itu masih berwujud anak kecil, belum gagah dan menikah seperti sekarang.

Itu sedang ada acara peringatan Hari Kartini di playgroup Bimba tempat aku menuntut ilmu.
Jadi murid-murid di sekolah disuruh pake pakaian khas kedaerahan. Untuk lalu disuruh maju satu-satu ke atas panggung menunjukkan kebolehannya dalam bergaya dan dinilai oleh 3 juri yang terdiri dari pak guru, bu guru, dan orang tua murid.

Aku didandani oleh papi dan mami pake peci, baju batik, celana jeans, dan kemudian pake sarung dari selimut. Tak lupa dilukis kumis di wajahku. Entah itu menurut orang tuaku pakaian khas daerah mana.
Memang papi mamiku itu anti mainstream orangnya. Sip lah pokoknya.

Lanjutkan membaca

Makan Malam Bersama Kawan

Itu kejadiannya sudah satu bulan yang lalu sih.

Sekitar akhir Agustus kemarin ketika aku abis gajian. Maka aku pun mengadakan acara makan malam bersama sanak saudaraku dalam rangka sedang banyak duit.

Kami sedang asyik-asyiknya memilih menu, ketika tiba-tiba teleponku berdering. Oh, itu kawanku rupanya.

“Yu, lu lagi di mana?” terdengar suaranya dengan logat yang khas dari seberang sana.

“Baru makan malem sama saudara-saudara ini. Gimana Koh?”

Iya. Kawanku itu emang lebih tua dari aku. Jadilah aku panggil ‘Koh’ supaya sopan santun.

“Oh, abis itu bisa ketemuan gak? Perlu diskusi nih, tukar pikiran. Lagi pusing gua, hahaha…”

Piye to, lagi pusing kok malah hahaha gitu. Tapi itu aku bilangnya dalam hati aja.

“Sudah ciak belum? Ikutan gabung aja sini sekalian,” begitu aku menawarkan kepadanya.

“Jangan lah, gak enak sama saudaramu”

Ora popo.. Santai aja. Malah jadinya ada yang mbayarin tho..

“Hahahaha… Oke, oke. Dimana?”

Kemudian aku menyebut satu nama restoran di bilangan Jakarta Pusat. Kawanku bilang akan sampai dalam 10 menit kalau jalanan lancar. Dan benar saja, 10 menit kemudian dia sudah muncul di sana. Kehadirannya sendiri cukup mengundang perhatian. Maklum, kawanku itu orang yang lumayan populer di Jakarta. Dia tampak mengangguk dan tersenyum ke sana ke mari dalam perjalanannya ke meja kami.

On time bener kayak delivery Pizza Hut!” kataku sambil menggeser kursi di sebelahku, mempersilakan dia duduk.

“Hahahaha, bisa aja lu! Tadi naik ojek gua, biar cepet,” jawabnya sambil menepuk pundakku.

Aku pun memperkenalkan sanak saudaraku ke dia. Kalo dia sendiri rasanya sudah tidak perlu diperkenalkan, mengingat sosoknya yang sering muncul di media massa tanah air.

“Ayo pesen makan dulu, Koh! Cobain gurami pesmolnya tuh, enak!”

“Sip dah, ngikut aja gua”

Lanjutkan membaca

Indonesia, 22 Juli 2014 (dan seterusnya)

Setidaknya dalam seminggu terakhir ini, kalian – terutama yang di Jakarta – pasti sudah pernah denger kalimat-kalimat ini dari orang tua, sanak saudara, kerabat, maupun teman-teman kalian:

– “Buat jaga-jaga simpen beras, mi instan, air galon, dan bahan makanan-minuman lainnya”

– “Simpen duit cash buat jaga-jaga. Paspor selalu dikantongin juga”

– “Kalo bisa jangan kemana-mana. Jam 5 langsung pulang kantor, jangan kemaleman”

– “Tangki bensin dipenuhin selalu”

– “Cek tekanan angin ban!”

– “Jangan memaksakan diri menyetir jika mengantuk…”

Oke. Oke. Dua yang terakhir itu tips mudik aman sih.

Tapi sisanya pasti cukup familiar terkait situasi menjelang 22 Juli 2014 ini. Ya gak?

Kalo iya, maka pertama-tama berterimakasihlah pada papi-mami-oom-tante-kakak-adek-teman-atau-siapapun-itu yang memberitahu kalian. Artinya mereka peduli pada kalian. Yang kedua, yakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Iya. Semuanya akan baik-baik saja.

Tapi bagaimana meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja, padahal aku sendiri tidak yakin?

Mungkin begitu pertanyaanmu.

Iya. Aku pun juga begitu. Gak sampe yang takut sih. Tapi cukup was-was juga.

Kasian juga kita ya. Udah deg-degan di bawah tekanan menghadapi tanggal tua, masih ditambahin deg-degan efek pengumuman KPU.

Yah. Semoga tanggal 22 Juli ini bisa berlalu dengan damai, sehingga kita bisa segera kembali ke aktivitas masing-masing dengan tenang. Amin?

Amin.

Eh, tapi tunggu.

Iya kalo tanggal 22 Juli sudah final. Gimana kalo nanti kubu yang kalah mengajukan banding ke Mahkamah Konstitusi, trus mesti tunggu keputusan Mahkamah Konstitusi entah tanggal berapa lagi. Atau skenario lainnya yang mengharuskan kita menunggu tanggal tertentu lagi. Masak iya kita mesti melulu terkatung-katung dengan cemas begini? Kehidupan macam apa itu. Semacam jomblo nembak tapi gak dijawab-jawab aja. Huft.

Dari situ aku jadi berpikir. Mungkin justru kondisi itulah yang diinginkan oleh pihak-pihak tertentu. Bahwa kita diombang-ambingkan dalam ketidakpastian, bahkan dalam ketakutan. Entah tujuannya apa, tapi jelas tidak baik.

Karena itu aku memilih untuk tidak tunduk pada tujuan mereka. Aku memilih untuk tidak takut.

Iya. Itu pilihan kok. Pilihan yang sedikit dipaksakan, mengingat dalem hati masih agak was-was juga.

Tapi aku sudah memilih.

Aku memilih untuk percaya pada KPU, bahwa mereka akan bekerja keras menjaga suara rakyat dan tidak mengkhianati tanggung jawab mereka.

Aku memilih untuk percaya pada pemerintahan SBY, bahwa beliau akan bekerja keras mengawal proses peralihan ini dengan baik. Demi rakyatnya, demi bangsanya, demi reputasi baik yang selama ini sudah dibangunnya di dalam maupun luar negeri.

Aku memilih untuk percaya pada aparat penegak hukum, bahwa mereka akan bekerja keras menjaga keamanan negeri ini dan mengatasi oknum-oknum yang bermaksud membuat kekacauan.

Aku memilih untuk percaya pada bangsa kita, pada masyarakat kita, pada kita, pada Indonesia. Karena mungkin memang ada segelintir orang dengan kepentingan pribadinya masing-masing yang punya niat tidak baik untuk negeri ini. Tapi percayalah, jumlah mereka kalah jauh dibandingkan dengan jumlah orang-orang baik yang punya niat baik, punya tujuan baik, yaitu aku, kamu, dan orang-orang baik di sekitar kita. Dan kita siap menggagalkan segelintir orang itu.

Karena itu, aku memilih untuk beraktivitas seperti biasa. Tanpa rasa cemas. Tanpa rasa takut. Baik pada 22 Juli 2014, maupun seterusnya.

Merdeka!

keep calm Indonesia

Let’s have faith in ourselves, Indonesia 🙂

Kurang Pas

Akhir-akhir ini, aku lebih suka mengisi bensin sepeda motorku di Shell.

Tau Shell sodara-sodara?

https://i2.wp.com/photos.wikimapia.org/p/00/03/27/75/17_big.jpg

Yak itu dia pom bensinnya Shell.

Iya. Itu pom bensin kok. Jangan mentang-mentang ada logo kerangnya lalu kalian kira ini rumah makan seafood. Don’t judge a book by it’s cover ya guys.

Aku lebih suka di sini itu terutama karena cenderung gak serame SPBU Pertamina pada umumnya. Lebih sepi. Lebih syahdu. Cocok untuk mengasingkan diri dan mencari inspirasi untuk mengarang puisi. Mungkin karena dia gak jual BBM bersubsidi sama sekali. Ya malah enak, jarang pake antri jadinya. Tau sendiri kan aku orangnya sibuk dan memiliki mobilitas motoritas yang cukup tinggi. Sehingga waktuku jangan sampai terbuang untuk hal-hal yang kurang berguna.

Beberapa kali aku isi bensin di Shell yang di sini, kadang yang di sana, tergantung pas lagi lewatnya mana dan jodohnya sama siapa. Dari situ aku jadi bertanya-tanya. Sejauh pengamatanku, kok Shell ini gak ada yang Shell Pasti Pas ya. Atau mungkin karena pake bahasa Inggris jadinya Shell Must Be Fit. Tapi gak ada juga tuh.

Lanjutkan membaca

Bahagia itu Sederhana (Syarat dan Ketentuan Berlaku)

Tadi sore hujan. Padahal itu jam-jam orang mau pulang kantor.

Aduh. Mungkin ini gara-gara aku protes kok kemarin-kemarin hujannya pagi-pagi jam berangkat kantor mulu. Jadilah sekarang di-reschedule. Ya tapi jangan jam pulang kantor juga kali..

Ya tapi gak apa-apa juga sih.

Toh kalo uda jam pulang kantor, ketampanan duniawiku tinggal 14% doang. Sudah kedip-kedip merah. Misal amit-amit basah kena guyur hujan atau kecipratan genangan air juga ya udahlah wong ya mau mandi.

Maka aku pun bergegas bersama Belalang Tempur, untuk menjemput si Gondrong dulu, untuk kemudian pulang ke kos.

Walah itu kok ya pake banjir di jalan Arjuna. Tau kan yang jalan di pinggir tol Jakarta-Merak itu? Kampret lah itu yang ngasih nama jalan. Kan Arjuna itu tokoh wayang yang dikisahkan tampan rupawan. Lha ini jalanan kalo pagi macet, kalo ujan banjir, kalo malem penerangan remang-remang. Pokoknya semrawut gak karuan. Masak iya dikasih nama Arjuna. Harusnya Jalan Rahwana. Ato bisa juga Jalan Sutan Bhatoegana. Nah cocok.

https://i1.wp.com/www.tokohtokoh.com/wp-content/uploads/2013/06/sutan-bhatoegana-415x300.jpg

Hahaha. Becanda Su. Jangan diambil ati.

Lanjutkan membaca

Kemarin Waktu Nonton ‘Soekarno’

Kemarin Rabu, setelah seharian membanting tulang untuk bekerja keras di kantor, aku dan kekasihku yang resmi itu memutuskan untuk nonton bioskop.

“Mau ‘Hobbit’ apa ‘Soekarno’?” tanya si Gondrong.

“Soekarno aja. Mumpung masih maen. Kemaren denger-denger mau ditarik dari peredaran kan”

Oke. Jadilah kami nonton ‘Soekarno’. Dua tiket jam 9 malem.

Seperti biasa sebelum film dimulai, ditayangkanlah trailer-trailer film yang coming soon. Nah yang gak biasa, setelah trailer itu, tiba-tiba di layar ada tulisan suruh berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mas-mas tukang bioskopnya pun meminta penonton untuk berdiri.

Awalnya semua tampak canggung. Iya sih, secara nyanyi Indonesia Raya di bioskop gitu kayaknya baru kali ini. Di belakang sempet ada yang nyeletuk, “Lah, kayak upacara aja, hahahaha”.

Gak lucu tau mas.

Aku pun menuruti perintah mas tukang bioskop dan berdiri dan menyanyi. Si Gondrong juga.

Di layar bioskop tampak background bendera merah putih dilengkapi lirik lagu Indonesia Raya. Mungkin ini disiapkan sebagai antisipasi siapa tau Roy Suryo nonton film ini juga. Kasihan kan kalo salah lagi 🙂

Lanjutkan membaca

“Cihuy!”

Pasti begitulah reaksi kalian ketika mengetahui ada tulisan baru di blog ini.

“Lama amat gak nulis woy. Oktober melompong aja tuh gak ada postingan”

Iya. Maaf ya atas kelamaan tersebut.

Tapi perlu kalian ketahui, aku akhir-akhir ini orangnya lumayan sibuk.

“Ah, alesannya sibuk mulu”

Bukan, bukan sekedar alasan. Gini deh, supaya kalian kebayang pola hidupku akhir-akhir ini, akan kusajikan dalam bentuk diagram. Marilah disimak.

dibikin pake excel #niatbangetsih

dibikin pake excel #niatbangetsih

Oke. Kita bahas dari yang paling besar eaaa…

Paling banyak menyita waktu, tentu saja adalah kerjaan kantor dengan kontribusi 37% (itu asumsi pulangnya tenggo lebih dikit lah, belum termasuk kalo terjadi lembur segala macem). Ini sih tak terhindarkan ya, namanya juga mencari nafkah. Biarpun aku termasuk bos tapi kan butuh duit juga.

Trus kedua adalah tidur, baik tidur sendirian maupun tidak sendirian (maksudnya sama bantal, sama guling, sama sprei, sarung, boneka, dll) dengan kotribusi 25%. Ini gak usah dibahas lah ya. Semua manusia pasti butuh tidur. Kebutuhan biologis ini mah. Apalagi untuk suami-istri. Xixixixi…

Lanjutkan membaca

Tukang Nasi Goreng Amerika

Aku sih niatnya gak makan malem. Lagi diet biar tampan. Iya dong. Walaupun aku sudah laku dan dikaruniai kekasih yang cantik, tapi ketampananku tetap harus di-maintain, biar ga anjlok kayak rupiah.

Wuiiii, kuat gitu gak makan malem??

Yahh, semua itu intinya di niat kita kok. Asal ada kemauan pasti bisa. Lagipula rasa lapar itu hanyalah ilusi belaka. Pokoknya asal didasari niat yang kuat, pasti bisa! Percaya kata saya!

Yahh, sambil nyemil-nyemil dikit boleh lah, biar ga terlalu laper, kebetulan ada kue dikasih sodara tadi siang. Hehe..

***

Itu sudah sekitar pukul sembilan malam. Aku lagi apa ya tadi itu? Oya lagi baca buku pengembangan potensi diri. Ketika itu tukang nasi goreng Surabaya lewat di depan kosan. Dug, dug, dug, dug, begitulah iramanya mendayu duhai sedap sekali.

Bah. Dia kira bisa meruntuhkan niatku semudah itu??

Iya.

Bisa.

Dasar tukang nasi goreng sialan 😦

Besok aja deh dietnya.

Aku pun lari keluar kamar dan kupanggil si tukang nasi goreng dari balkon lantai tiga.

Lanjutkan membaca

R.E.F.U.N.D

Jumat siang, aku ditelpon oleh mas-mas, “Siang, dengan bapak Yuwono Gusman?”.

Katanya dari maskapai penerbangan yang melakukan pembatalan flight itu, mau follow-up.

Ha! Akhirnya!

“Untuk penerbangan Jakarta-Semarang dan Semarang-Jakarta kan jadinya dibatalkan ya pak. Kami menawarkan tiga opsi, yang pertama…”

“Saya mau refund aja mas,” itu aku memotong pembicaraan dengan tegas. Untung lewat telepon. Kalo ketemu langsung mungkin bisa disiram teh sambil diteriakin ANDA DIAM KALO SAYA NGOMONG.

“…oh, mau refund aja?”

“Iya mas”

“Oke, untuk pembayarannya kemarin menggunakan debit BCA ya. Jadi nanti kita transfer. Bisa dibantu nomer rekeningnya?”

“Waduh, nomer rekeningnya gak hapal. Yang tau gitu-gitu mami sih biasanya. Saya coba tanya mami dulu. Telepon saya 2 menit lagi bisa?”

“Oh, baik pak, nanti saya telepon 2 menit lagi, terima kasih”

Tut.

Gak lah. Nomernya ada di hapeku kok. Aku pun mennyalinnya di kertas. Dan beneran 2 menit kemudian mas-masnya telepon lagi. Salut! Dia emang mas-mas on-time, kayak Pizza Hut Delivery.

Lanjutkan membaca

Now Everyone Can…cel

Aku dan kekasihku si Gondrong mau ke Semarang besok September. Ada acara keluarga gitu deh.

“Enaknya naek apa ya say?” itu si Gondrong tanya. “Apa naek bus?”

Aduh. Ini calon istri bos besar masak mau naek bus. Lagian tau sendiri sekarang aku orangnya manja dan borjuis, mana mau naek bus.

“Ogah. Naek pesawat aja say,” itu aku jawab dengan penuh gaya hidup.

Maka kami pun cari-cari tiket pesawat buat pulang-pergi Jakarta-Semarang. Dapetlah tiket Air Asia yang kebetulan lagi promo itu.

Lumayan.

***

4 Juni 2013. Tiba-tiba ada SMS dari Air Asia semacam ini:

Urgent! AirAsia flight QZ7565 and QZ75699 from Semarang to Jakarta effective 01JUL13 until 29APR14 has been cancelled. Sorry for inconvenienced caused. Thank You.

Oh. Untung bahasa Inggrisku cukup lihai, makanya aku paham. Itu artinya pesawat Air Asia dari Semarang ke Jakarta dicancel semua, dari 1 Juli 2013 sampe 29 April 2014.

Eh??

BUSETTT!!

Berarti penerbanganku ke Semarang besok September juga dicancel dong? Trus gimana dong? Kan udah terlanjur bayar dong? Duitnya gimana dong?

Lanjutkan membaca