Kenangan Hari Kartini Era Orde Baru

Itu adalah 21 April, aku lupa tahun berapa pokoknya masih jaman dulu. Jaman Orde Baru.
Dan aku, oh waktu itu masih berwujud anak kecil, belum gagah dan menikah seperti sekarang.

Itu sedang ada acara peringatan Hari Kartini di playgroup Bimba tempat aku menuntut ilmu.
Jadi murid-murid di sekolah disuruh pake pakaian khas kedaerahan. Untuk lalu disuruh maju satu-satu ke atas panggung menunjukkan kebolehannya dalam bergaya dan dinilai oleh 3 juri yang terdiri dari pak guru, bu guru, dan orang tua murid.

Aku didandani oleh papi dan mami pake peci, baju batik, celana jeans, dan kemudian pake sarung dari selimut. Tak lupa dilukis kumis di wajahku. Entah itu menurut orang tuaku pakaian khas daerah mana.
Memang papi mamiku itu anti mainstream orangnya. Sip lah pokoknya.

Pas mau maju ke atas panggung, tiba-tiba aku gugup melihat peserta lain pada pake baju adat yang suka sewa di salon-salon itu. Tahu kan itu. Yang full set komplit, misal kalo cowok adat Jawa ya pake blangkon, beskap, ada kerisnya pula. Entah kenapa aku jadi minder ngeliatnya.
Maklum lah waktu kecil kan orangnya aku malu-malu. Belum mau-mau seperti dewasa ini.

Aku nangis, ngambek gak mau maju ke panggung. Papi dan mami juga jadi bingung berusaha menenangkan aku.
Tiba-tiba dari kerumunan majulah kakek dan nenek. Oh, ternyata mereka datang juga.

Nenek berbisik pada mami, “Sini, tak bujukane”, yang dalam bahasa Indonesia artinya sini coba saya bujuk.

Kemudian nenek beralih padaku.
Ayo anak lanang kudu wani,” kata nenek, “sing penting iku dudu klambine, nanging wonge sing nganggo klambi“.
Terjemahannya kurang lebih, ayo anak cowok harus berani, yang terpenting itu bukan kostum yang dipakainya, tapi orang yang ada di balik kostum itu.

“Ayo sana maju. Ditemeni eyang putri,” sorak kakek dari belakang.

image

Aku pun jadi optimis dan percaya diri. Nenek berjalan di sebelahku, memberanikan diriku.
Akibatnya aku jadi lincah berlenggak-lenggok di atas panggung. Sempet mau breakdance sama standup comedy juga. Tapi ga jadi karena jaman itu kan belum ngetren gituan. Ya wes gapapa.

Aku udah lupa pada akhirnya itu aku juara apa nggak. Kan kejadiannya udah lama banget. Kau pikir aku hard disk eksternal opo, bisa nyimpen semua memori gitu.

Tapi yang penting hari itu aku memetik pelajaran berharga. Bahwa apa yang membuat kita dipandang orang bukanlah apa yang kita kenakan. Melainkan sejatinya diri kita sendiri.
Wah super sekali itu aku kecil-kecil bisa memetik hikmah semacam itu.

Ya udah.
Gitu dulu ya sharing tentang Hari Kartini-nya.
Tak lupa kuucapkan selamat Hari Kartini bagi yang merayakan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s