Masih Anak Mami

Malem, sesampainya di kos, aku sudah disambut oleh sekotak kardus.

KEPADA YUWONO GUSMAN.

Kemudian di bawahnya ada nomer hape dan alamat kosku. Ditulis dengan tulisan tangan yang khas. Khas papiku.

“Paket dari Semarang kak?” si mbak kos pengen tau aja.

“Bukan mbak, dari Amerika. Dari Obama”

“Ih, kakak mah, haha”

“Dih gak percaya, ini dia kirim kamus bahasa Amerika. Disuruh belajar saya. Mau dikasih beasiswa”

“Hahaha, kakak ih”

Iya. Mbak kosnya mungkin alumni ITC. Suka manggil ‘kakak’ gitu.

Anyway.

Isinya bukan kamus bahasa Amerika kok.

Itu papi kirim plat nomer sama STNK buat sepeda motorku. Soalnya yang lama udah abis masa kejayaannya. “Harus perpanjangan STNK dulu di Semarang lho,” kata papi tempo hari. Oke papi. Jadilah STNK-ku diperpanjang sama pak polisi di Semarang. Aku sendiri kurang tau detail teknis gimana caranya memperpanjang STNK. Entah diurut, entah dielus-elus lembut, entahlah..

Anyway.

Kedatangan plat nomer dan STNK itu rupanya ditunggangi pula oleh beberapa cemilan kesukaanku. Ini pasti ulah mami papiku yang mengkhawatirkan kecukupan gizi anaknya di perantauan. Hore.

Aku pun segera menelepon mereka.

“Mam, paketnya udah nyampe. Makasih ya..”

“Iyo. Itu bisa masang ndak nanti platnya?”

“Besok baru tak pasang Mi. Ini udah malem, gelap. Takut teledor salah pasang ke motor orang”

“Halah kesedmu! Ini ngomong sama papi biar dibilangi carane..”

Telepon pun berpindah ke papi yang kemudian memberi penjelasan singkat gimana cara memasang plat motor yang sesuai kaidah-kaidah agama. Lalu ngobrol ngalor-ngidul juga.

“Ya wes, ini mami lagi ya”

“Ya”

“Yo?” suara mami kembali terdengar.

“Ya Mi?”

“Itu cemilan abis makan jangan langsung bobok lho”

“Iya Mi, ndak kok”

“Minum air putih dulu, nanti batuk lho, wong lagi musim batuk gini”

“Iya Mi”

“Ya udah ya. Dadahh..”

“Iya dadahh..”

….

Ya begitulah mami.

Walaupun sekarang anak lelakinya ini sudah berusia 26 tahun, sudah tumbuh bulu, sudah jadi bos di Jakarta, sudah mau nikah lalu punya anak (atau sebaliknya)…. ya begitulah mami.

Masih terus mengkhawatirkan anaknya dalam setiap teleponnya.

Masih suka kepikiran kabar anaknya dalam setiap SMSnya.

Masih segitunya memperhatikan anaknya dalam setiap BBMnya.

Masih terus menyebut nama anaknya dalam setiap doanya.

Masih senantiasa menyayangi anaknya dalam setiap napasnya.

Anaknya aja yang kadang suka lupa. Sering sih.

Maaf ya mi. Maaf ya pi.

Dan terimakasih.

And I love you too :’)

Titik dua. Bintang.

graow!

graow!

Iklan

8 pemikiran pada “Masih Anak Mami

  1. Namanya ibu pasti begitu kali ya. Jangan kamu yg 26 tahun, la wong saya sudah lewat 30 tahun aja masih terus dikuatirkan 😆 . Atau kalau adik laki-lakiku sudah jam 10 malam belum pulang, mamaku ga bisa tidur katanya :D.

  2. Aha.. Mas enak boleh merantau, trus bisa ngerasain mandiri.
    Aku ga bisaaa…. Mau kerja di luar kota malah bapakku nangis2 gitu, dulu ikut tes supaya bisa sekolah di Singapur malah dimarahin. Kerja musti deket2, ga boleh jauh. Entah nanti nikah gimana… *curcol dikit*

    Ibuku orangnya sedikit pendiam jadi kalo anaknya lagi jauh sih jarang ditanya ini itu. Tapi diem2 disiapin sih hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s