Doa Seorang Penumpang

Itu hari Minggu, 23 Desember.

Aku akan pulang dari Jakarta ke Semarang via udara, naek pesawat Air Asia penerbangan pertama yang jam subuh itu. Biasalah, mana mau orang borju macam aku disuruh naek bis malem.

Setelah selesai ngurusin bagasi, bayar airport tax, dan ini itu, aku pun tinggal masuk ke ruang tunggu bandara sampe pesawatnya siap kunaiki.

Oh, baru nyadar masih belepotan tahi mata ini. Sialan. Kayak lagunya Stinky aja. Tetes tahi mataaa, basahi pipikuu..

Maka sambil bersih-bersih mata dan mikir mau dileletin di celana apa di jaket, aku mencari-cari tempat untuk duduk.

Tapi ruang tunggu bandara pagi itu bener-bener rame banget. Aku sampe nyaris gak bisa duduk. Syukurlah cuma gak bisa duduk. Kalo gak bisa berdiri kan ntar yang kasian istrinya juga (ini ngomongin apa coba??)

Anyway.

Cukup menarik juga mengamati keramaian bandara pagi itu.

Terlihat beberapa wanita bule, sedang cuek dengan keramaian di sekitarnya, dengerin sesuatu lewat earphone-nya sambil baca buku. Kayaknya buku panduan wisata Indonesia. Pasti dia sedang merencanakan penjajahan penjelajahan bumi nusantara. Cakep euy. Entah kenapa kalo bule biasanya cakep. Mungkin efek dijajah Belanda selama tiga setengah abad membuat kita terdoktrin bahwa cakep itu rambutnya pirang, kulitnya putih, hidungnya mancung, susunya oke (maksudnya suka minum susu yang oke biar sehat).

Kemudian, ada juga seorang pria paruh baya pake kacamata item, maenan ipad dengan penuh gaya. Buset dah, subuh-subuh gini pake kacamata item. Mungkin silau liat sinar ipad. Mungkin kacamatanya mahal, jadi mesti dipamerin dalam situasi apapun. Mungkin lupa dilepas dari kemaren siang. Mungkin dia OKB – orang kaya baru – jadi masih sombong-sombongnya.

Kemudian, ada juga gerombolan pemuda gondrong duduk-duduk di karpet karena gak kebagian kursi. Mereka sedang asyik makan nasi kardus sambil ngobrol-ngobrol rame. Sepertinya mereka tipe petualang dan pecinta alam, bisa dilihat dari tas punggung mereka yang besar-besar. Mungkin isinya parasut, trus nanti di tengah penerbangan mereka bakal bilang ke pilot, “Mas, kiriii!”, kemudian lompat keluar dan terjun payung.

Kemudian, ada juga sekeluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak perempuannya yang cantik. Si ayah yang tampak masih ngantuk berusaha tidur di kursi, sementara si ibu tampak cemas dan insecure, mengecek tiketnya berkali-kali sambil tiap 5 menit memastikan ke suami dan anaknya, “Pesawat ke Semarang bener di sini tho?” dan “Bener ya, barang-barang udah gak ada yang ketinggalan lagi ya?”. Si anak cantik sendiri lagi sibuk maen Blackberry sambil mungkin curi-curi pandang ke arahku. Mungkin lho ya..

Kemudian, ada juga gadis-gadis ketawa-ketiwi berempat apa berlima gitu. Lagi sibuk foto-foto. Jepret. Lalu, “Eh, liat dong, liat dong”. Lalu, “Ehh, aku keliatan gendut! Ulangi, ulangii..”. Jepret. Lalu, “Eh, liat dong, liat dong”. Lalu, “Ehh, aku keliatan jelek/tembem/merem/poninya kurang bagus/bulu idungnya keluar/gak sengaja ngiler/dll, ulangii…” Dan begitu seterusnya sampe akhir peradaban manusia.

Kemudian, masih banyak juga orang-orang lainnya, yang memadati ruang tunggu bandara ini, dengan berbagai wujud dan kegiatannya masing-masing.

Nah, di pesawat nanti aku kan duduknya di kursi 22B. Berarti akan ada dua orang, satu di kiriku, satu di kananku. Dua orang, dari antara kerumunan manusia-manusia ini, yang akan duduk di sebelahku.

Hanya dua dari sekian banyak.

Maka segera kupanjatkan doa seorang penumpang,

“Ya Tuhan, jika aku boleh meminta, semoga di sebelah kiri dan kananku yang duduk adalah cewek. Cakep. Kalo bisa yang bule tadi, tapi kalo gak bisa domestik juga oke. Yang penting cakep. Aku janji aku akan tetap setia pada pacarku. Aku tidak akan minta pin BB atau nomer HP pada mereka. Juga tidak akan genit-genit ngajak ngobrol ato curhat. Cuma pengen duduk sebelahan aja supaya perjalananku nyaman. Dan wangi. Aku janji ya Tuhan. Tapi apapun itu, biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi, sebab itulah yang terbaik untukku. Amin.”

Segera setelah itu corong pengeras suara berbunyi, memanggil para penumpang Air Asia tujuan Semarang agar segera menuju ke gerbang 5. Yes. Mari kita lihat hasil doaku.

Aku memasuki pesawat dengan langkah yang tegap dan tahi mata yang sudah dibersihkan, lalu duduk di 22B dengan nyaman.

22A dan 22C masih kosong.

Deg-degan.

Seseorang kemudian berdiri di lorong, menaruh tas di kabin atas, bersiap duduk di 22C.

Oh! Ini dia!

Jiahh!

Bapak-bapak! 😦

Oke, tidak perlu putus asa dulu. Masih ada kesempatan di 22A.

Nah! Ini dia!

Ini dia!

………….. kampret! Si OKB!

Kacamata itemnya masih dipake pula.

Aku down.

….

… Oke lah.

Mungkin ini yang terbaik bagiku.

Ya sudah.

Untung masih ada Farah Quinn yang menemaniku dengan senyumnya sepanjang penerbangan.

Farah Quinn di pesawat

Dan pesawat pun terbang di angkasa dengan selamat sampai Semarang.

Terimakasih Tuhan.

Terimakasih Farah Quinn.

Muah.

Iklan

8 pemikiran pada “Doa Seorang Penumpang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s