Lebih Dekat Dengan Rakyat

“Paling besok juga uda nyampe Mas”

Begitu kata si mas tukang paket di Semarang yang aku percayai untuk mengirim sepeda motor kebanggaanku ke Jakarta. Optimis sekali si mas ini. Dia ngomong gitu hari Kamis. Hari Jumatnya, kutungguin di Jakarta tapi motorku belum nongol juga batang knalpotnya. Sialan. Sukanya janji palsu. Dasar cowok.

Padahal aku sedang ada urusan dan harus bepergian. Akibatnya, siang itu terlihatlah sesosok pemuda sukses yang sedang nyegat angkot nomer 37 di daerah Kelapa Gading. Iya, itulah aku wahai pemirsa.

Untuk urusan naik angkot, aku ini termasuk yang suka pilih-pilih. Maklum anak manja. Mesti yang bersih, yang gak terlalu rame penumpangnya, yang gak ugal-ugalan nyetirnya, yang pake bahan bakar non-subsidi, yang sopirnya juga se-iman. Tapi susah juga nyari yang kayak gini. Ya udah, akhirnya kunaiki angkot terdekat yang kelihatan sepi penumpangnya.

Termasuk aku, cuma ada 3 penumpang di dalam angkot itu. Pokoknya damai deh suasananya.

Lalu baru jalan sedikit, angkot itu sudah berhenti lagi karena dicegat orang. Serombongan ibu-ibu rakyat jelata bersama anak-anaknya. Selusin mungkin jumlahnya. Dan mereka pun segera menjejali angkot itu dengan hebohnya.

“Sini-sini, sebelah sini!”

“Noh, lu pojok sono noh!”

“Buruan ah, geserr!!”

Dan angkot pun segera penuh sesak. Aku jadi berdesak-desakan dengan mereka. Padahal mereka keringetan gitu. Badannya bau perjuangan. Aku sebenernya mau ngambek dan turun aja. Tapi gak enak, nanti kesannya aku eksklusif, gak mau bergaul. Ya udah, paling-paling 10 menitan doang.

Ehh, ternyata masih ada satu personel ibu-ibu lagi sama anaknya. Kayaknya dia bingung mau duduk mana karena uda berjubel banget.

“Noh, di sebelah engkohnya, masih muat!” kata seorang ibu-ibu lain yang tampak leadershipnya paling menonjol di antara mereka sambil menunjuk aku.

Masih muat, ndhasmu, Bu!! kataku dalam hati.

Walaupun begitu aku tetap mengalah dan bergeser, demi memberi tempat pada si ibu-anak ini, demi kerukunan berbangsa dan bernegara juga. Jadilah pantatku yang duduk cuma sebelah, yang sebelah lagi ngambang di udara bagaikan sulap.

Angkot pun jalan lagi. Dan mereka kembali heboh ngumpulin duit buat bayar angkotnya.

“Empat rebu sini sekalian, ntar buat naek busnya juga!”

“Eh, mpok, empat rebu tuh, sini bayar!”

“Woy, gue kembali seribu!”

“Eh eh, ngomong-ngomong, pinter juga tuh si Tuti, duduknya milih di sebelah si engkoh ganteng!”

“Hahahaha..”

Aku, selaku si engkoh ganteng, cukup diem aja sambil tersenyum jaim.

“Si engkoh pasti heran tuh ngeliatin kita rame, biarin dah, hahahaa..”

“Dari mana mau kemana nih ibu-ibu?” itu aku, selaku si engkoh ganteng, membuka dialog dan berusaha bersosialisasi dengan mereka.

Oh, mau ke daerah Cakung ternyata. Itu mereka jawabnya berebutan, gak pake ngacung dulu.

“Kok, situ mau naek angkot sih Koh?” itu salah satu ibu-ibu tanya.

Sekali lagi aku senyum jaim, “Hehe.. Ya gak apa-apa lah, sekali-sekali”. Gara-gara si tukang paket motor sialan juga nih.

“Iyee… mestinye naek mobil Koh, hahahaa…” ibu-ibu yang lain menimpali.

Amin. Semoga Tuhan mendengarmu dear ibu-ibu 🙂

Tiba-tiba, aku kepikiran buat foto sama mereka. Pas itu belum ada niat mau dimasukin blog sih. Buat seru-seruan aja.

“Eh, ibu-ibu, foto yuk,” demikian kataku, yang mengakibatkan mereka heboh lagi.

“Aduhh… malu ah Koh, hahaa..”

“Heee… Mo dikasi liat ke papanya yee?”

Busett, dikata calon mantu apa, pake dikasi liat ke papi segala (-_-“).

Dan berfotolah kami bersama, yang dijepretin oleh salah seorang anak rombongan mereka.

Itulah aku, si engkoh ganteng, bersama rakyat. Cocok deh buat poster kampanye. Semacam “Mas Gusman, si engkoh ganteng, lebih dekat dengan rakyat”. Trus minta sponsor Prabowo deh.

By the way, gampang sekali bukan berfoto bersama mereka si rakyat jelata, untuk terlihat peduli dan dekat dengan mereka? Iya. Aku aja bisa, pake kamera hape biasa. Apalagi kalo kamu punya kamera yang bagusan, ato punya video kamera, ato punya stasiun televisi sendiri. Pasti hasilnya keliatan lebih bagus. Lebih dekat. Lebih peduli.

Iya.

Terlihat dekat dengan rakyat itu gampang.

Tetap dekat dan peduli dengan rakyat, setelah mereka percaya dan memberikan dukungannya untuk kita, itu baru susah.

Susah, tapi bukan gak mungkin.

Semoga Jokowi-Ahok bisa 🙂

.

.

Dan kemudian kami pun turun semua di terminal Pulogadung, untuk mereka lanjut naek bus ke Cakung, untuk aku lanjut jalan kaki ke kantor. Si sopir angkot tampak agak kecewa, mungkin karena gak kena foto.

Kapan-kapan ya bang, kalo mo ada Pemilu lagi…

Iklan

12 pemikiran pada “Lebih Dekat Dengan Rakyat

  1. W̶̲̥̅̊α̩̩̩̩̥к̲̣̣̥ά̲̣̥k̶̲̥̅̊ɑ̣̣̝̇̇α̇̇̇α̩̩̩̩̥W̶̲̥̅̊ά̲̣̥α̇̇̇α̩̩̩̩̥k̶̲̥̅̊ɑ̣̣̝̇̇ά̲̣̥α̇̇̇W̶̲̥̅̊ɑ̣̣̝̇̇α̩̩̩̩̥к̲̣̣̥ά̲̣̥α̇̇̇ ,,,,,,,,itu td mksdnyaa ibu2 engkoh apa engkong yaaa,,,,ahihihii,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s