Marilah, Rohingya!

Sore itu, di seputaran Tugu Muda, hawa terasa sangat sejuk. Itu karena aku sedang berada di dalam mobil yang ber-AC, yang memisahkanku dari panas teriknya dunia kaum kelas menengah ke bawah.

Dari balik jendela mobil yang saat itu sedang berhenti karena lampu merah, kuamati aktivitas orang-orang yang sedang mencari rejeki di setiap jeda antara lampu merah ke lampu hijau. Ada tukang jual koran, tukang (maksa) ngelap kaca mobil, tukang jual kolak buat berbuka puasa, dan juga tukang bawa megacot. Lah? Dagang apaan tuh pake bawa megacot segala? Dilatarbelakangi penasaran, kukecilin volume suara radio di mobil, pengen denger si tukang megacot ngomong apa.

Terdengar suara cempreng berisik khas megacot.

picture courtesy of hminews.com

“Sodara-sodara! Kita semua bwawaWAWAAAAA!!!”

Apa? Gak denger. Jadilah kumatiin radionya, biar lebih denger.

“Jadi sodara-sodara, demi bwaawawa kita waWAWAWAAA!!”

Weleh. Beneran deh gak jelas dia ngomong apa. Kayaknya setiap orasi yang menggunakan media megacot memang bukan bertujuan untuk didengar, namun untuk dilihat supaya seolah-olah sedang tegas, sedang ngotot, sedang perjuangan. Yang penting harus kedengeran kata ‘sodara-sodara’, harus teriak di setiap akhir kalimat, harus mengacungkan kepalan tangan ke atas. Niscaya walo gak paham dia ngomong apa, rombongannya akan ikut berteriak “HIDUUPPP RAKYATT!!”

Tapi dia tidak bersama rombongannya anyway. Cuma berdua sama temennya, yang sedang keliling dari jendela mobil satu ke mobil yang lain, ngiderin kotak kardus bertuliskan “DOMPET PEDULI ROHINGYA”.

Oh.

Baru paham. Ternyata mereka melakukan aksi sosial demi Rohingya. Bagi yang gak tau, Rohingya itu adalah salah satu etnis di Myanmar. Saat ini terjadi konflik di Myanmar yang menyebabkan etnis ini dideportasi keluar dari sana (lebih lengkapnya bisa googling sendiri).

Nah, si tukang megacot dan temennya itu peduli dan mereka ingin membantu. Demi Rohingya.

Jujur, aku tersentuh dan salut pada aksi mereka itu. Mereka solider pada etnis yang diusir dari tanah air Myanmar – sekali lagi – dari tanah air Myanmar.

Tuh kan, kalo uda gini pasti sebentar lagi mulai sinis deh ni orang, begitu katamu padaku.

Maaf, bukannya mau nyinyir. Sekedar opini aja sih, sekedar mau mengingatkan aja: masih banyak juga lho orang-orang yang perlu dipedulikan dan dibantu di deket-deket kita di sini, di Indonesia 🙂

Ada korban kebakaran di Karet Tengsin, Jakarta yang sempet sampe kudu ngungsi di TPU. Ada korban lumpur Lapindo yang kehilangan tempat tinggal dan nasibnya sampe sekarang belum jelas gimana. Ada anak di deket perumahanmu yang mungkin gak mampu nerusin sekolah karena biaya. Ada Rhoma Irama yang sedang menangis karena terkena tuduhan kampanye SARA (yang ini gak ding). Dan yakinlah masih banyak lagi kalo mau diperhatiin.

Mereka semua perlu dipedulikan dan dibantu juga. Mereka semua ada di deket kita, di Indonesia – sekali lagi – di deket kita, di Indonesia. Dan kamu pernah kah peduli?

Well. Bukan berarti kita hanya boleh peduli pada rakyat se-negara. Bukan juga berarti peduli soal Rohingya salah. Justru emang sepatutnya kita peduli dan simpati pada etnis Rohingya ini. Tapi… ya kalian paham maksudku lah. Ibarat adikmu sendiri saat ini sedang kesusahan bikin PR, tapi kamu malah sibuk bantuin bikin PR adiknya orang lain, mungkin karena itu adiknya pacar kamu, ato mungkin karena adiknya pacar kamu itu lebih cakep dari pacarmu, ato… anyway, paham kan maksudku?

Sekali lagi itu sekedar opiniku aja sih. Opinimu bisa sama dan kamu setuju, atau berbeda dan kamu tidak setuju. Atas nama kebebasan berpendapat, itu tidak apa-apa. Kau dengan dirimu saja. Kau dengan duniamu saja. Teruskanlah.. teruskanlah….

*****

Di tengah lamunanku tentang Agnes Monica, si pembawa kotak kardus “DOMPET PEDULI ROHINGYA” tiba-tiba sudah berdiri di luar jendela mobilku. Langsung saja aku tempelkan tangan ke kaca mobil, menggelengkan kepala sambil tersenyum. Tapi dia tidak tersenyum. Dan lampu merah berubah menjadi hijau. Mobil pun segera melaju. Ngeengg…

Aku bantu lewat doa aja ya mas. Amin.

.

.

.

SEKEDAR PENUTUP:

1. Kemarin sempet liat di berita, FPI di Makassar melakukan aksi solidaritas Rohingya dengan demo di klenteng setempat, demi memprotes penindasan etnis Rohingya di Myanmar. Aksi itu berlangsung ricuh karena emang begitulah standard operating procedure mereka: harus rusuh, harus anarkis. Lah? Apa hubungannya Rohingya sama klenteng di Makassar? Gini lho logikanya FPI: etnis Rohingya itu pemeluk agama Islam dan Myanmar pemeluk agama Buddha. Etnis Rohingya yang didepak dari Myanmar merupakan penindasan umat muslim oleh umat Buddha, begitulah dari kacamata piciknya FPI. Nah, jadi make sense kan kalo mereka protesnya ke klenteng di Makassar, kan klenteng itu tempatnya umat Buddha? Yup, make sense! Yang gak make sense itu adalah kenapa ormas gak jelas macam mereka masih belum dibubarin!

2. FYI, saat ini Jusuf Kalla beserta tim sedang ke Myanmar untuk meninjau dan mencoba mencari solusi untuk konflik yang melibatkan etnis Rohingya tersebut. Dan beliau bilang kalo itu bukan konflik agama, tapi konflik karena perselisihan penduduk asli dan etnis pendatang. See? Mari serahkan pada ahlinya. He’s doing his best 🙂

3. Coba deh googling images ‘Rohingya’. Serem dan sadis ya foto-fotonya? Nah, silakan coba googling ulang dengan kata kunci ‘foto hoax Rohingya’. Nah selamat, kamu telah menjadi pengguna internet yang lebih cerdas 🙂

Iklan

10 pemikiran pada “Marilah, Rohingya!

  1. setujuuu ma pndptmu !! ^^,,masi byk konflik n masalah2 di Indonesia yg blm terselesaikan..jd mending diurusin dl masalah disini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s