K for Karimunjawa #1: OTW

Ini adalah reportase perjalananku ke Karimunjawa beberapa minggu yang lalu.  Nah, mengingat kapasitas otak manusia yang tidak bisa menampung banyak informasi dalam waktu bersamaan, maka aku berbaik hati membagi kisah ini menjadi beberapa bagian (entah berapa bagian, lihat nanti lah, se-niatnya). Lagian biar ada bahan posting untuk beberapa waktu kedepan. Ya wes, inilah part 1, silakan…

.

Pada musim panas kemarin ini, selama 4 hari dari Senin sampe Kamis, di saat kalian para karyawan jelata sedang suntuk terkantuk-kantuk di kantor kalian yang sumpek dengan bos kalian yang pada umumnya rese itu, aku dengan santainya sedang pergi berlibur ke Karimunjawa. Ya betul. Pulau Karimunjawa yang lumayan terkenal itu tuh. Enak ya enak ya. Makanya buruan jadi orang kaya. Biar bisa libur sesuka-suka kalian.

Itu perginya sama rekan-rekan se-perusahaan, se-Jawa Tengah gitu lah. Jadinya rame banget, ada sampe 90-an orang. Kebetulan aku adalah wakil ketua panitia rombongan manusia itu. Ketua panitianya ada temenku, si Yohan namanya. Tapi tidak usahlah kita bahas dia terlalu banyak, nanti malah dia yang jadi tokoh utama. Kan ini blog-ku, enak aja.

Kami pun berangkat dari Semarang ke Jepara dulu via jalur darat, nanti baru lanjut Jepara-Karimunjawa pake jalur air. Dari Semarang jam setengah lima pagi! Setengah lima itu kumpul di kantornya lho, tentu saja aku harus bangun jauh lebih pagi kayak para petani. Tapi tak apa, toh demi kepentingan liburan juga. Kalo demi kepentingan kerja, barulah kita patut mengeluh.

Sesampainya di Jepara sekitar jam setengah 8 pagi. Trus dari Jepara ke Karimunjawa-nya lanjut naek ikan lumba-lumba yang telah disediakan oleh Pemda Jepara. Per orang dapet satu. Tapi bagi yang gak suka lumba-lumba, bisa pilih naek kapal. Aku pengennya nyobain naek lumba-lumba aja ke Karimun. Tapi menurut hasil googling, si lumba-lumba katanya walau selalu patuh kalau disuruh, tetapi suka makan dulu. Bermain bolaa, makan dulu. Bermain apiii, makan dulu (itu googling dapetnya lirik lagu Bondan Prakoso sih).

Akhirnya kami sepakat naik kapal aja, apalagi kapalnya bangga menyatukan nusantara gitu. Kami pun ikut bangga.

Perjalanan kapal yang kami naiki dari Jepara ke Karimunjawa itu katanya akan makan waktu sekitar 6 jam. Enam jam? No problem! Dalam bayanganku, aku akan menghabiskan 6 jam itu dengan duduk nyaman, memakai kacamata item, mendengarkan lagu-lagu yang jazzy dari tracklist BB sembari membaca beberapa novel klasik berbahasa Inggris. Sesekali aku juga akan memandang riak-riak kecil gelombang dan birunya lautan, menikmati sepoi angin menghembus rambutku dan hangat mentari menyentuh kulitku, serta menghirup aroma khas laut nan segar, dengan burung-burung camar putih berterbangan di latar belakang. Begitu dalam bayanganku. Maka buat aku 6 jam juga bukan masalah. Yang penting aku keren.

courtesy of travelinstyle.com

Ya semacam itulah bayanganku.

Namun oh namun, sebagaimana foto profil Facebook yang kadang gak secakep orang aslinya, khayalanku itu pun beda banget sama kenyataannya. Kondisi kapalnya jauh di luar dugaanku. Kalo diibaratkan angkutan darat, ini se-kasta sama bus omprengan ato metromini gitu. Udah gitu kapalnya penuhhhhhhh banget!! Sialan. Gara-gara lagi liburan sekolah nih, aku baru inget. Bisa-bisanya juga semua penduduk pada kompak liburan ke Karimunjawa gini, kan bisa aja pergi ke Dufan, ato ke Trans Studio, ato ke Singapur, ato ke nikahan Anang-Ashanti. Kok ya malah kesini semua iki piyee. Ahh…

Saking penuhnya kapal, di lantai satu (yang harusnya buat tempat mobil-sepeda motor serta barang-barang ekspor dari Jepara ke Karimun) akhirnya diisi manusia juga. Digelarin kain terpal gitu. Trus pada tidur-tiduran di atasnya.

Di lantai dua yang emang tempat penumpang, kursinya penuh semua. Jadilah yang gak kebagian kursi ada yang lesehan ato tidur-tiduran di selasar kosong antar kursi, berjajar-jajar kayak sandal jepit di depan masjid, bikin susah kalo mau jalan-jalan. Bahkan ada juga yang sekeluarga gelar koran trus tiduran di deket toilet yang baunya eneg gitu.

Sementara di lantai tiga, di geladak kapal yang open-air gitu, banyak juga orang-orang yang duduk lesehan di sana karena ga dapet tempat. Awalnya mungkin lesehan di geladak ini cukup oke dibanding dua lantai tadi karena gak terlalu sumpek plus bisa liat pemandangan. Tapi semakin siang, deritanya makin kerasa. Panas banget, bener-bener dijemur habis-habisan gitu. Udah gitu pemandangannya mah air laut biru semua, disuruh mantengin selama 6 jam muak juga kali ya.

Oya di lantai tiga ini ada juga ruang kemudi kapal serta kamar-kamar bagi awak kapal. Ada 4 ato 5 kamar kalo gak salah. Nah, kamar-kamar ini disewain sama awak kapalnya buat penumpang yang pengen tempat lebih nyaman. Per kamarnya 300-ribuan. Beuhh..

Aku juga jadi mempertanyakan kapasitas kapal ini seharusnya berapa sih. Masak iya gak dibatasin sesuai kursi penumpang, menyebabkan pada berjubel gini. Gak main-main lho ini. Hubungannya dengan maksimal beban yang mampu ditanggung kapal, trus juga stok live jacket-nya apa iya cukup buat semua orang di sini, serta faktor kenyamanan dan keselamatan lainnya. Tapi ya sudahlah. Emang begitulah seharusnya segala sesuatunya berjalan di negara kita ini: selama belum sampe ada (amit-amit) kejadian apa-apa ya berarti masih oke. Oke ndhasmu.

Rombongan kami pun tidak semua kebagian tempat duduk (punya tiket belum tentu dapet tempat duduk, harus rebutan, harus berjuang dulu, makanya tadi aku bilang ini kalo di darat sederajatnya sama metromini). Sebagian di lantai dua, sebagian besar panas-panasan di geladak lantai tiga.

Dan belum selesai sampai di situ pemirsa.

Sepanjang perjalanan kapal terombang-ambing gelombang laut yang cukup besar, jadinya goyangannya terasa sekali. Perut serasa dikocok-kocok. Hanya perut. Tidak sampe bawah perut sayangnya. Otomatis para penumpang pada mabuk semuanya. Kalo FPI liat pasti bisa marah besar, pada mabuk-mabukan siang bolong gitu. Yang (maaf) muntah juga banyak, sampe pada antri di depan toilet (yak betul, ini toilet yang di deketnya ada sekeluarga tidur beralaskan koran tadi). Antri mau muntah. Hiii..

Aku dan Yohan selaku ketua dan wakil ketua panitia merasa cemas akan kondisi tim kami di tengah semua hiruk-pikuk ini. Kami berdua pun patroli keliling kapal demi ngecekin rombongan kami yang terpencar-pencar itu. Yang pada lesehan kita sapa dengan ramah, kita tanya gimana keadaannya, apa hobinya, siapa artis Indonesia favoritnya, biar mereka merasa diperhatikan. Yang sakit juga kita sembuhkan (dikasih obat maksudnya, bukan bikin mukjizat gitu). Yang mabuk berat kita pindahkan ke kamar di lantai tiga yang akhirnya kita sewa dari awak kapal untuk menampung yang pada parah. Pokoknya kami uda kayak calon Gubernur kampanye mengunjungi warga gitu.

Saking sebalnya kami dengan kapal yang jalannya lambat nan memabukkan ini, kami pun menerobos ruang kemudi. Hey nakhoda, bisa nyetir gak sih. Itu kami menghardik nakhoda dengan gagah. Dia tidak terima, kawan-kawannya juga. Ternyata mereka memang bersekongkol supaya se-kapal mabuk, demi menguasai dunia.  Kami pun selaku jagoan segera memulai perkelahian. Baku hantam pun terjadi. Akhirnya kami selaku jagoan pasti menang. Nakhoda dan kawan-kawannya yang jahat itu pingsan. Lalu siapa yang akan mengemudikan kapal ini? si Yohan yang ketua panitia bingung. Aku saja, gitu si aku jawab yakin. Emang kamu bisa? dia tidak percayaan. Iya bisa, aku belajar dari DVD bajakan Pirates of Caribbean, jawabku. Dia pun tenang mendengar itu. Jadilah aku kemudikan saja dengan pede sampai ke Karimunjawa dengan selamat dan tidak mabuk lagi.

Oke.

Satu alinea yang terakhir itu boong kok. Pasti kalian sempat tertipu. Sukurin.

Aslinya ya udah kami mabuk-mabukan selama sekitar 7 jam (TUJUH jam, bukan ENAM jam sialan!). Bahkan aku yang tadinya sempat pecicilan keliling kapal pun harus tunduk pada keganasan ombak laut dan mual-mual. Jadi diem duduk terpekur gitu di pojokan. Seperti bukan aku yang biasanya kalian kenal.

Dan akhirnya jam 4 sorean kita sampe di Karimunjawa.

Jangan lupa yang paling penting update status BBM ato Facebook ato Twitter dulu, first thing first lah, abis itu baru deh mengucap syukur pada Tuhan karena sudah dilindungi dan sampai dengan selamat. Soal ngabarin orang rumah nanti aja lah, kalo mereka udah mulai cemas karena gak ada kabar trus mereka telepon, barulah kita bilang “udah sampe kok, mah, pah, sori tadi sinyal jelek gak bisa ngabarin”. Semacam itu lah. Ya kan?

Anyway, inilah Karimunjawa!

Kami pun sudah tidak sabar, petualangan apa yang menanti kami di sini. Nanti ya lanjutannya kapan-kapan… Stay tuned aja!

~ to be continued ~

Iklan

15 pemikiran pada “K for Karimunjawa #1: OTW

  1. Pertama-tamane moco tulisanne dadi pgn ke sana tapi lama2 crita Perjalananne koq gawe ilfeel ke KJ yaa.? mikir2 sek aelahh

    • waitt, the best is yet to come 😀
      btw ada transport yang laen juga kok, bisa naek kapal ekspress Bahari dari Jepara (cuma sekitar 2-3 jam) ato naek kapal dari Semarang ato naek ikan lumba-lumba tadi 😀

  2. lek ndang lanjutane ndes…..
    ojo sampe nasib e koyo serial komik legenda naga sing ceritane selot ra jelas juntrungannya…… terbit e setaon pisan sissan….

  3. lek ndang lanjutane ndes…..
    ojo sampe nasib e koyo serial komik legenda naga sing ceritane selot ra jelas juntrungannya…… terbit e setaon pisan sissan….

  4. Nek ke karimunjawa mendingan dari tanjung mas semarang ae.. Nek dari brosure sich kapal’e apik mbe cpt.. Tpi mbuh y ak dw y durung jajal hehe…

  5. Ping balik: K for Karimunjawa #2: Goodnight Island « ohmasgusman

  6. Ping balik: K for Karimunjawa #3: Ini Baru Musim Panas! « ohmasgusman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s