Toko Buku dan Masa Depan Pendidikan Anakku

Yak, telah tiba saatnya gajian. Maka aku pun harus segera menghambur-hamburkan uangku karena bagaimanapun juga kita ini adalah kaum masyarakat duniawi yang konsumtif. Foya-foya itu harus.

Lalu aku pun pergi ke toko buku untuk belanja buku. Aku ini orangnya emang gemar membaca, terutama buku-buku tentang leadership, marketing, sains, kesehatan, kesusastraan, ilmu hukum-politik dan topik-topik berat yang susah kalian cerna lainnya. Nah, pas aku lagi pilih-pilih mau beli komik apa, tak sengaja terdengarlah percakapan orang di belakangku, antara seorang ayah dan anaknya (yang kemudian aku tahu masih kelas 5 SD). Maka aku pun terpaksa nguping mereka karena kebetulan aku juga lagi gak ada kerjaan.

Si ayah lagi menceramahi anaknya di deket setumpukan buku-buku kumpulan latihan soal Ujian Nasional.

“Nih, dulu Ayah ya, sejak setahun sebelum Ebtanas sudah mempersiapkan diri belajaaarrr terus. Jadi ketika Ayah klas 5 seperti kamu ini ya, Ayah mulai baca-baca lagi bahan plajaran dari klas 1. Trus ayah juga latihan garap soal-soal dari pak gurunya ayah. Tanpa disuruh lho itu. Akhirnya pas Ebtanas klas 6-nya, Ayah jadi juara nomer satu se-kecamatan!” pamernya dengan sangat bangga, seolah-olah baru kemaren dapet juaranya.

Si anak SD diem aja tanpa ekspresi gembira, padahal ayahnya telah menjadi juara gitu. Anak durhaka dia.

“Nah, sekarang kamu sudah enak,” si ayah lanjut ceramah lagi,  “Ada buku-buku paket soal semacam ini. Jadi gak usah susah-susah nyariin buku plajaranmu dari klas 1 dulu. Kamu tinggal kerjain aja buat latihan sendiri di rumah, gak usah nungguin bu guru nyuruh,” lanjut si ayah lagi sambil mencomot salah satu buku soal itu, melihat-lihat isinya, dan manggut-manggut menghayatinya.

Si anak SD masih diem aja, ngelirik ke gundukan buku soal itu tanpa hawa nafsu sedikitpun.

“Daripada beli buku sepongbob itu tho, sama-sama 30 ribunya, tapi ini kan lebih berguna”

“Yang pengen beli Spongebob kan adekk, bukan aku!!” si anak SD akhirnya ngomong setelah sekian lama diem, sambil menunjuk ke arah sesosok makhluk kecil yang dengan cueknya sedang tengkurep di lantai toko buku seolah-olah toko buku ini adalah rumahnya sendiri (Perasaan sekarang banyak banget ya anak kecil model gini di mal-mal, trus ortunya juga cuek aja gitu. Gak tau kalo kalian gimana ya, tapi aku sih gatel aja liatnya). Si anak kecil itu sedang membolak-balik kasar halaman sebuah buku bergambar yang mungkin adalah buku sepongbob 30 ribu yang dicela si ayah tadi.

Si ayah cuek aja (Tuh kan ortunya cuek). “Gimana? Mau kan ayah beliin ini? Buat ngisi waktu selama liburan ini ya..”

Si anak SD tampak ga ridho, tapi cuma bisa pasrah. Lagian ni toko buku juga salah musim, liburan malah yang dipajang buku ujian gini. Jadilah liburan ini si anak itu kudu garap kumpulan soal persiapan ujian biar nilainya bagus.

Hmm…

Aku pun jadi merenung. Kalo dipikir-pikir, model pendidikan kita emang gitu ya.

Nilai.

Ranking.

Juara.

Sistem penilaian yang seragam, entah apapun bakat dan minat alami si anak. Berorientasi hasil. Dihargai dengan angka, kadang diiming-imingi hadiah supaya angkanya bagus, kadang diancam hukuman kalo angkanya jelek.

Kalo nilainya jelek berarti bego. Kalo nilainya oke tapi gak masuk ranking berarti masih kurang pinter. Kalo ranking 10 besar doang gak cukup, mesti juara satu. Mesti juara se-apa gitu. Itu baru anak yang hebat.

Tak lupa kemudian dibanding-bandingkan semacam, tuh liat anaknya tante itu aja bisa ranking satu, padahal sama-sama makan nasi kayak kamu, apa kamu ganti makan ubi aja ya?

Lalu anak-anak ini pun di-les-privat-kan. Pulang sekolah lanjut les pelajaran ini. Pulang les pelajaran ini lanjut les pelajaran itu. Biar nilai bagus. Biar masuk ranking. Biar juara.

Hmmm…

Oke, sekarang kenapa anak harus mati-matian kejar nilai dan ranking dan juara sejak SD? Ya supaya dia bisa masuk SMP favorit (dan mati-matian kejar nilai disana), untuk kemudian bisa lanjut ke SMA favorit (dan mati-matian kejar nilai di sana), untuk kemudian bisa kuliah di universitas ternama (dan mati-matian kejar IPK tinggi di sana), untuk kemudian mendapat pekerjaan yang diinginkan, yang bisa memakmurkan hidupnya. Itu semua demi gengsi orang tuanya untuk kebahagiaan si anak sendiri.

Rencana yang indah kan? Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Begitulah skenarionya. Tapi belum tentu begitulah kenyataannya. (Kalian para pemuda-pemudi seumuranku pasti telah merasakannya kan? Bagaimana kalian kuliah susah-payah tapi ilmunya gak kepake di kerjaan; nilai kalian oke tapi cari kerjaan masih aja susah; sekalinya dapet kerjaan belum tentu cocok secara salary maupun jobdesc-nya. Betul demikian sodara-sodara?)

Nah, sekali lagi, kenapa anak harus mati-matian kejar nilai dan ranking dan juara sejak SD?

Kasihan.

Maka dalam hati aku pun berjanji pada anak(-anak)ku yang belum dilahirkan itu.

Ketika anak(-anak)ku sudah bisa bahasa manusia nanti, akan kukatakan kepadanya.

Dear all.

Papi tidak akan menuntut kamu jadi pemilik nilai tertinggi tiap ulangan, atau ranking pertama di kelas, atau juara se-sekolahan. Kalo bisa ya sukurin, kalo ga bisa yo wes. Yang penting masa kecilmu bahagia.

Papi tidak akan menuntut kamu bisa masuk ke sekolah favorit. Kalo bisa ya sukurin, kalo ga bisa yo wes. Yang penting kamu bisa belajar bersosialisasi dan bermasyarakat di sana, tumbuh jadi pribadi yang baik, yang peka lingkungan.

Papi tidak akan menuntut kamu les alat musik ini, ato les kesenian itu, ato les olahraga anu. Justru papi yang akan balik tanya ke kamu: kamu pengennya kursus apa. Ya betul. Asal ongkosnya murah papi pasti dukung kok.

Jangan khawatir kalo nilaimu kalah sama temenmu yang lain, papi gak akan marah. Dapetin ilmunya, bukan nilainya. Pokoknya kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Yang penting adalah bagaimana kamu tumbuh dari gak bisa apa-apa menjadi bisa tahu dan paham.

Yang penting adalah prosesnya.

Ya betul.

Seperti ketika kamu tercipta di dunia ini, yang penting juga adalah prosesnya. Proses bagaimana kamu dibikin oleh papi dan mami. Ah. Papi bersama mami menikmati betul proses itu… (pasti kemudian mamimu akan mencubit keras-keras perut papi sambil ngomel, “Wong edan! Jangan diajarin aneh-aneh!!” Oke mami. Sori.)

Papi juga tidak akan menuntut kamu untuk berprofesi sebagai ini atau itu, harus berkarier sebagai ini atau itu, harus jadi dokter, ato insinyur, ato superhero, ato bla bla bla. Gak perlu seperti itu nak. Yang penting kamu bisa kaya raya, cukup itu aja papi udah seneng.

Ah, ini udah mulai ngelantur si papinya. Emang papimu ini susah serius. Tapi serius nak, papi akan mendidikmu dengan baik.

Ya pokoknya begitulah tekad papi.

….

Kemudian aku menyudahi renunganku itu, karena toh punya anaknya masih lama, masih 2 taon lagi (kecuali jika ada perubahan rencana). Aku pun membayar komik yang sudah aku pilih tadi, mengantri di kasir, di belakang si anak SD dan ayahnya yang sedang membayar buku paket kumpulan latihan soal Ujian Nasional.

Teriring doa semoga dia juara se-kecamatan seperti ayahnya.

Amin.

Iklan

17 pemikiran pada “Toko Buku dan Masa Depan Pendidikan Anakku

  1. Cita2 menuntut prestasi tinggi di bangku pendidikan memang tidak salah, tetapi itu hanya akan menciptakan “Perlombaan Tikus”.. (R T K)

  2. mantapzzz yu……tak tunggu buku pertama mu terbit yo, karo distro OMG mu dibangun…..wkwkwkwkwkwkwk…….NICE!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s