Pada Suatu Kangen

Senin itu cuaca Semarang begitu syahdunya. Matahari bersembunyi malu-malu dari balik awan. Sesekali gerimis turun bagaikan ludah dari langit (jijik amat perumpamaannya). Suasana pun lalu jadi sejuk. Cocok untuk mereka yang ingin melakukan pembuahan, baik secara resmi maupun tidak resmi. Ah.

Seharian suasananya seperti itu.

Jadi inget suasana kota itu.

Kota kecil tempat aku mengasingkan diri dari keramaian, demi menuntut ilmu dan mencerdaskan diri, demi IPK yang setinggi-tingginya, demi cita-cita menjadi karyawan perusahaan ternama yang berdasi rapi dan bergaji tinggi, atau demi menjadi mahasiswa lagi dengan gelarnya yang lebih tinggi jauh di luar negeri sana. Demikian idealismeku, sang mahasiswa saat itu. Demikian impian sang mahasiswa, yang kemudian bertemu dengan realita, dan gugur perlahan-lahan…

Demikianlah Salatiga.

Ah.

Kalo inget kota itu jadi inget kamu juga. Jadi mellow. Sialan.

Maka sore harinya di kantor itu kutelepon kamu. Karena kangen.

“He? Kok telepon?” tanyamu di ujung sana.

“Iya. Karena kangen”

Maka kamu pun tidak percaya seperti biasa, seperti rakyat pada pemerintahnya.

“Iya. Sumpah, beneran kangen. Sumpah Pemuda! Sumpah Pramuka!”

Oya itu aku telepon pake Telkomsel ke nomermu yang bukan Telkomsel, yang otomatis membuat kamu bereaksi,

“Kok kamu telepon pake ini? Apa gak boros? Pake Fren-mu aja kan gratis to?” Begitulah tanyamu lagi. Kamu ini emang banyak tanya.

“Gak apa-apa. Orang kaya kok,” demikian jawabku.

Lagian hape Fren-nya kan ketinggalan di rumah. Kamu mana tau. Wek.

Lalu kita ngobrol, ngabisin pulsaku, ngomongin hal-hal yang gak penting dan gak berguna dan gak bermutu dan gak bermoral (yang terakhir ini gak ding). Lalu kita ketawa-ketawa gak jelas, kadang sambil cekikikan imut, kadang sampe ngakak nggilani. Sambil aku mengintip dari balik jendela kantor, mengintip gerimis yang turun lambat-lambat namun konsisten membasahi jalan.

Aroma hujan ini dan jalanan basah itu.

Sama seperti hari-hari di musim penghujan di Salatiga itu, saat kita berjalan berdua kemana-mana. Jalan makan bareng lah, jalan ke kampus lah, jalan ke luar pulau lah, ke planet lain lah… Pokoknya cari-cari alesan biar bisa pergi berdua. Di atas jalanan dingin yang basah itu, dibalut hangatnya canda tawa kita berdua, di bawah perlindungan payung, bagaikan Rihanna ella ella e e

Ah, masa muda itu. Jadi makin kangen kamu. Iya. Sumpah, beneran kangen. Sumpah Pemuda! Sumpah Pramuka!

Dan kemudian seharusnya Here, There, and Everywhere dari The Beatles mengalun mesra sebagai latar belakang,

…….

Watching her eyes and hoping I’m always there

To be there and everywhere

Here, there and everywhereee

.

.

Kalo kalian tau lagu ini kalian pasti tau suasananya romantis seperti apa. Tapi kalo gak tau, ya uda kalian bisa nyanyi lagu mellow yang cukup pasaran seperti Someone Like You sebagai gantinya. Pasti kalo ini kalian tau. Kan pasaran.

“Nyolot lu”

Biarin. Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s