Pada Suatu Malam

Malam itu aku masih ngurusin ini itu di kantor. Biasalah, karyawan berprestasi. Kulirik jam tangan, oh sudah hampir jam delapan malam. Pasti sang mami di rumah telah was-was menanti. Maka buruanlah aku pulang naek motor.

Ku-klakson pak satpam di pintu gerbang kantor, “TIINN!”, bukan karena dia menghalangi jalan, tapi untuk memberi salam.

“TIINN!”-ku tadi itu artinya “Pulang dulu ya Pak, hari sudah malam. Tolong titip kantor ini semalam saja, besok aku akan kembali lagi. Semangat ya jaga kantornya, nonton tipi boleh juga, tapi jangan sampai lalai pada kewajiban. Selamat bekerja! Wassalam!” Begitulah kira-kira artinya.

“TIINN!” sekali lagi. Itu karena kayaknya dia gak dengar “TIINN!” yang pertama. Ya sudahlah.

Sebagai informasi visual, jalanan sepulang kantorku memang gelap dan sepi, bagaikan nasib jomblo di malam minggu. Di sepanjang jalan rerumputan lebat mengangguk-angguk pasrah ditiup angin malam. Suara jangkrik terdengar sayup-sayup dari antaranya. Kadang suara kodok juga. Kadang suara buaya juga. Suara sapi juga. Onta, kancil, beruang, gorila, gajah juga. Serius kau? tanyamu. Tentu saja tidak lah, kamu kira aku kerja di hutan gitu?

Sementara itu di langit bulan sabit berpendar kuning, ditemani bintang-bintang. Oh sungguh malam yang syahdu.

Aku sudah hampir nyanyi ‘Malam Kudus’ ketika lampu motorku menyorot sesuatu. Lihatlah itu sepasang pria dan wanita, berdua-duaan di atas jok motornya. Lalu di sana ada lagi. Di sananya juga ada lagi. Lumayan banyak lah pokoknya.

Jangan tanya aku mereka lagi ngapain. Kamu tahulah pastinya. Kalau kamu tidak tahu, tunggulah sampai umurmu 17-an, trus mampir ke sini, nanti juga tahu.

Sambil malu-malu karena diterangi lampu motorku, mereka menghentikan sementara kegiatan mereka di atas motor masing-masing, untuk kemudian nanti dilanjutkan lagi setelah aku lewat.

Maaf ya Mas, maaf ya Mbak, numpang lewat sebentar, lalu silahkan dilanjutkan lagi aktivitas biologisnya. Jangan lupa kamu sedang ditunggu anak-istrimu dan keluargamu di rumahmu.

Aku dan motorku pun berbelok di tikungan, menerobos traffic light karena lampu sedang hijau, dan melanjutkan perjalanannya, kembali ke rumah, menuju ke mami yang was-was.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s